Berteman Berujung Penyesalan
Di suatu kota ada anak sekolahan bernama Grace dan Dirga. Mereka sudah berteman cukup lama dari kecil, bahkan kedua orangtua mereka pun sudah saling mempercayai satu sama lain. Mereka kini menginjak masa remaja, mereka duduk di bangku kelas 11 SMA. Dirga selalu berangkat dan pulang sekolah bersama Grace. Sampai teman-temannya mengira bahwa mereka bukanlah sebatas teman, tetapi berpacaran.
Saat masih kecil, Dirga sangat suka bermain bersama Grace. Mereka bermain ke area pedesaan untuk menjelajahi sawah dan berkeliling disekitarnya.
Dirga : "Grace mau main?"
Grace : "Boleh-boleh, mau main kemana Dir?"
Dirga : "Ke tempat biasa yuk, kita keliling-keliling sawah."
Grace : "Wah boleh tuh, sebentar ya aku ijin ke ibu."
Dirga : "Iya, aku tunggu depan ya."
Setibanya di sawah mereka langsung berlarian dan bermain kejar-kejaran. Tidak peduli bahwa pakaian mereka terkena noda akibat cipratan air yang ada di sawah. Setelah puas bermain mereka lanjut berjalan-jalan bersama mencari udara segar.
Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun mereka jalani bersama. Hingga akhirnya saat mereka sudah SMP, Dirga memiliki perasaan kepada Grace. Namun pada saat itu Dirga belum berani untuk mengungkapkan perasaannya. Saat masa SMP, Dirga memiliki perkumpulan teman yang kurang baik. Grace yang mengetahui hal itu hanya diam saja, karena dia mempercayai Dirga sejak kecil.
Tanpa Grace ketahui, sebenarnya Dirga memiliki over sex, dia sangat susah untuk menahan dan mengontrol nafsunya. Pernah suatu waktu dia melakukan hal yang tidak senonoh dengan melihat foto Grace. Dapat dikatakan bahwa Dirga telah melecehkan Grace melalui foto tersebut. Waktu terus berjalan hingga mereka menginjak usia remaja dan menjadi anak SMA. Dirga masih menyimpan perasaannya kepada Grace. Hingga suatu waktu, Dirga memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Grace.
Dirga : "Grace mau ngobrol sebentar, bisa gak?"
Grace : "Oh, bisa kok. Mau ngobrol dimana?"
Dirga : "Di taman sekolah aja, kalau di kelas gak enak banyak anak."
Grace : "Oke deh, yuk."
Mereka pun berjalan menuju taman belakang sekolah. Disana Dirga langsung berdiri tepat di depan Grace, Dirga berusaha untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru. Grace yang kebingungan dan penasaran hanya bisa menunggu Dirga untuk membuka pembicaraan.
Dirga : "Ee.. Jadi gini Grace."
Grace : "Kenapa si? Santai aja kali jangan kaku begitu."
Dirga : "Kamu tahu kan kita udah temenan dari kecil. Kemana-mana selalu bareng, bahkan orangtua kita juga deket banget."
Grace mengerutkan dahinya karena merasa penasaran dengan ucapan Dirga yang menggantung.
Grace : "Iya, terus kenapa? Jangan ngegantung gitu dong ngomongnya."
Dirga : "Aku pernah baca, katanya di pertemanan antara perempuan dan laki-laki itu pasti ada salah satu dari mereka yang menyimpan perasaan."
Grace : "Terus?"
Dirga : "Ya aku nyimpan perasaan ke kamu. Aku udah suka sama kamu sejak kita SMP, cuma belum berani buat mengungkapkan. Baru berani sekarang, jadi tujuan ku mau ngajak kamu pacaran. Kamu mau?"
Grace terkejut dengan pernyataan yang dibuat oleh Dirga. Grace menggelengkan kepalanya pelan.
Grace : "Dirga, kita ini udah temenan dari kecil. Aku sayang kok sama kamu, tapi rasa sayang ku cuma sebatas teman gak lebih. Terimakasih kamu udah mau jujur dan ngungkapin perasaan mu ke aku, aku hargai kok. Tapi maaf, aku gak bisa nerima ajakan kamu untuk pacaran."
Dirga : "Alasannya? Ada cowo lain ya? Yaudah gak papa. Makasih udah nolak mentah-mentah."
Dirga pun langsung pergi dengan perasaan kecewa dan sakit hati. Grace hanya bisa mengelus dada melihat teman kecilnya itu kemudian kembali menuju kelas. Dirga merasa semuanya tidak adil, dia menjadi memiliki dendam kepada Grace. Dia memiliki niatan jahat untuk Grace.
Berminggu-minggu berlalu, hubungan Dirga dan Grace menjadi renggang sejak saat itu. Kemudian suatu hari sekolah mengadakan sebuah acara yang dilaksanakan pada malam hari. Semua siswa memakai pakaian dengan gaya trendi. Grace memakai pakaian yang cukup terbuka, padahal orangtuanya sudah melarangnya untuk memakai pakaian tersebut. Dirga melihat Grace dengan pakaian tersebut, seketika dia mulai memikirkan niatan buruknya pada Grace.
Dirga mengambil salah satu minuman dan mencampurnya dengan sebuah obat. Kemudian dia menghampiri Grace dan memberikan minuman tersebut padanya. Grace yang merasa senang karena Dirga kembali menyapanya pun tanpa berpikir panjang menerima minuman tersebut. Ia meminumnya sampai habis dan tidak tersisa. Setelah beberapa saat, Grace merasa sangat pusing dan berujung tidak sadarkan diri. Dirga sesegera mungkin menggendong tubuh Grace dan membawanya ke suatu tempat yang sepi.
Tanpa basa basi, Dirga menjalankan aksi nekatnya itu kepada Grace. Dia sudah tidak bisa menahan nafsu dan ingin membalaskan dendamnya tersebut karena sudah ditolak oleh Grace. Tidak disangka, Dirga merusak teman kecilnya itu sendiri. Dirga tidak merasa bersalah sedikit pun, ia melakukannya dengan perasaan senang. Setelah ia selesai melakukan aksinya, dia merapihkan seluruh pakaian dan mengantarkan Grace pulang ke rumahnya. Dirga mengatakan kepada orangtua Grace bahwa Grace merasa tidak enak badan dan pingsan di tempat.
Paginya, Grace terbangun dengan keadaan tubuhnya yang terasa sangat sakit. Dia mencoba mengingat kejadian yang terjadi semalam. Setelah ia menyadari apa yang terjadi, Grace pun memojokkan tubuhnya dan hanya bisa menangis. Ia merasa kecewa pada Dirga, Grace tidak berani untuk mengatakan hal tersebut kepada orangtuanya. Grace memutuskan untuk memendam masalah ini.
Beberapa bulan berlalu, Grace merasakan sangat mual pada perutnya. Grace mencoba melakukan tes pada dirinya, betapa terkejutnya Grace ketika melihat hasil tes tersebut adalah positif. Dia mengandung anak dari teman kecilnya yaitu Dirga. Grace segera menghubungi Dirga dan memberitahu tentang keadaannya, namun Dirga tidak menggubrisnya dan mengabaikannya. Dirga tidak mau bertanggung jawab karena dia merasa tidak bersalah. Grace yang merasa kesal akhirnya membongkar semua kedok Dirga kepada orangtuanya. Semua orang merasa kecewa dengan Dirga.
Orangtua Grace memutuskan untuk melaporkan Dirga kepada pihak yang berwajib. Saat Dirga sedang asik nongkrong dengan teman-temannya, saat itu pula polisi datang untuk menangkapnya. Dirga merasa malu dan sangat menyesal dengan perbuatannya. Dia mencoba menemui keluarga Grace dan meminta maaf. Kini Dirga harus menjalani hukuman dan bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat.
Pesan dari cerita ini, bertemanlah dengan orang yang baik dan dengarkanlah perintah dari orangtua. Jangan sampai kalian terjerumus ke dalam lubang penyesalan nantinya.