Kisah Malaikat Izrail Melawan Iblis

Tersebutlah seorang jin yang amat taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ialah Azazil. Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk membawanya ke langit ke-7 dan hidup bersama jajaran malaikat lainnya. Saking shalihnya, ketaatan Azazil melebihi dari para malaikat dan menjadi pemimpin bagi para penduduk langit di sana. Allah menyayanginya melebihi segala ciptaan-Nya, sampai akhirnya Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan.

Banyak yang menentang keputusan-Nya untuk menjadikan Nabi Adam sebagai khalifah di bumi termasuk Azazil. Namun Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” (QS. Al-Baqarah: 30). Walau begitu, Azazil tetap keras kepala dan membangkang dari perintah-Nya untuk bersujud kepada Nabi Adam, ciptaan Allah yang paling sempurna. Maka, murkalah Allah dan menjatuhkan Azazil dari surga. Sejak saat itu, Azazil dikenal sebagai Iblis Laknatullah.

Abu Laits Samarkandi pergi ke Madinah untuk bertemu dengan Umar bin Khattab Radiyallahu ‘Anhu. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Ka’bul Akhbaar yang bercerita dalam suatu majlis mengenai Nabi Adam yang hendak dicabut nyawanya oleh Izrail. Allah berfirman, “Wahai Adam, kau langsung menuju surga, sedangkan si celaka (Iblis) ditunda hingga hari kiamat, supaya ia merasakan pedihnya maut, sebanyak mahluk pertama hingga yang terakhir.”

Seketika, hadirin memanas, menuntut Ka’ab Akhbaar untuk menceritakan ajal Iblis. Ia pun bercerita jika dunia sudah mencapai fase terakhirnya dan hampir ditiup sangkakala, sedangkan orang ramai di pasar sedang sibuk bertengkar dan berdagang, tiba-tiba terdengarlah suara yang amat keras dari langit, sehingga separuh penduduk bumi pingsang selama tiga hari. Dalam kepanikan itu, terdengar lagi suara gemuruh yang amat keras bunyinya, membuat tiap mahluk yang mendengarnya mati.

Allah memerintahkan Malaikat Izrail, “Aku telah menjadikan padamu pembantu sebanyak orang yang pertama hingga orang yang terakhir dan Aku telah memberikan kekuatan penduduk langit dan bumi. Kini, Aku pakaikan kepadamu pakaian murka dan kemarahan, maka turunlah dengan membawa murka dan kemaran-Ku kepada si celaka dan terkutuk Iblis. Maka, rasakan kepadanya kepedihan maut yang telah dirasakan oleh orang yang terdahulu hingga terakhir, dari golongan jin dan manusia, berlipat-lipat ganda, dan hendaknya kamu membawa 70.000 malaikat yang kesemuanya penuh murka dan kecemasan, dan tiap malaikat Zabaniyah yang membawa rantai dari neraka Ladho dan cabutlah dengan 70.000 bantolan dari neraka Ladho dan beritakan pada malaikat Malik supaya membuka pintu-pintu neraka.”

Maka munculah Izrail di hadapan Iblis. Izroil membentak Iblis sekali dan ia pun pingsan seraya mendengkur. Setelah sekian lama, Iblis sadar dan dibentak sekali lagi oleh Izroil, “Berhentilah, wahai penjahat! Kini rasakan padamu kepedihan maut sebagaimana dirasakan oleh banyaknya hitungan orang yang telah engkau sesatkan dalam beberapa abad engkau hidup! Dan hari inilah hari yang ditentukan oleh Tuhan bagimu, maka kemanakah engkau akan lari?!”

Iblis lari terbirit-birit ke ujung timur, tetapi Izrail tiba-tiba muncul di hadapannya. Kemudian, ia menyelam ke dasar samudra, namun Izrail tetap muncul di hadapannya. Namun tetap tidak ada tempat baginya berlindung. Kemudian Iblis putus asa dan berdiri di atas makam Nabi Adam dan berkata, “Karenamu aku celaka! Duhai sekiranya kau tidak dijadikan!” Lalu, ia bertanya kepada Izrail, “Minuman apakah yang akan kau berikan kepadaku dan siksa apakah yang akan kau timpakan padaku?”

Izrail menjawab, “Dengan minuman dari neraka Ladho dan serupa dengan siksa ahli neraka yang berkali-kali lipat!” Mendengarnya, Iblis mengerang-berang di atas tanah dan mencoba melarikan diri lagi. Kali ini, para malaikat Zabaniah menghadang sang Laknatullah dengan bantolan-bantolan dari neraka Ladho. Seketika Iblis merasakan kepedihan yang amat menyakitkan di penghujung umurnya, Allah memanggil Nabi Adam dan Siti Hawa untuk menyaksikan kematian musuh abadinya. Keduanya pun berdoa, “Ya Tuhan kami, sungguh Engkau telah menyempurnakan nikmat-Mu kepada kami.”

Saksikanlah, bagaimana nasib Iblis, yang pada awalnya mendapatkan posisi yang tertinggi di hadapan Allah, tiba-tiba harus menjadi mahluk yang hina-dina, akibat dari kesombongannya terhadap perintah Allah. Maka, janganlah anda merasa telah menjadi manusia yang terbaik di sisi Allah. Peliharalah sikap tawadhu sebaik mungkin, sebab yang menentukan derajat manusia bukanlah kita atau pun ibadah-ibadah kita, melainkan kasih dan rahmat Allah yang seluas alam semesta. Wallahu’alam.

Postingan populer dari blog ini

Peraturan dan Regulasi Tentang Hak Kekayaan Intelektual - Pertemuan Ke-8 Mata Kuliah Etika Profesi

Peraturan dan Regulasi Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi - Pertemuan Ke-7 Mata Kuliah Etika Profesi